Selasa, 01 Desember 2009

Taman Budaya Lampung Semakin Kumu

Taman Budaya Lampung tampak semakin kumuh dan semrawut, padahal taman itu memiliki andil besar dalam pelestarian dan pembinaan seni, khususnya seni daerah Lampung. "Pemprov Lampung kurang perduli terhadap keberadaan taman budaya ini. Buktinya, fasilitas minim dan kebersihan tidak terjaga. Setiap usulan yang kami sampaikan, jarang mendapatkan tanggapan dari pemerintah," kata salah satu pengelola sanggar di Taman Budaya Lampung, Arif, di Bandarlampung, Kamis. Menurut dia, Taman Budaya Lampung kurang memiliki peralatan musik daerah. "Seharusnya taman budaya tidak hanya sekedar memberikan pelayanan penyewaan ruangan saja, tetapi dititikberatkan pada pembinaan yang mengarah pada seni budaya yang menjadi ikon Provinsi Lampung," katanya. Sejumlah warga yang sering mengunjungi taman budaya itu juga mengeluhkan kekumuhan tempat tersebut.

"Tempat ini ramai, banyak masyarakat yang menggunakan taman budaya sebagai tempat acara seremoni. Tapi sayang, tempat ini tidak terawat sehingga kumuh," kata Toni, warga yang tinggal di sekitar Taman Budaya itu. Berdasarkan pantauan, Taman Budaya Lampung memang kurang terawat dan kumuh. Hal itu terlihat dari cat bangunannya yang sudah memudar dan sampah yang berserakan. Taman Budaya Lampung memiliki beberapa ruangan, di antaranya adalah gedung utama, wisma, teater tertutup, teater terbuka dan ruang pameran.

Menurut Kasubid TU Taman Budaya Lampung, Marzor, pengunjung cukup ramai sehingga target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan selalu tercapai. Target PAD per tahun mencapai Rp12,5 juta. Dia mengatakan, pihaknya kekurangan dana untuk melengkapi fasilitas di Taman Budaya tersebut. Taman Budaya diresmikan pada 16 Agustus 1978 oleh Dirjen Kebudayaan Prof.Dr.Ida Bagus Matri. Pada April 1991, Taman Budaya resmi menjadi UPTD Kebudayaan. Sementara itu, Pasar Seni di kawasan Enggal Bandarlampung juga terlihat kumuh dan semrawut. "Tempat ini mati suri, jarang ada event yang digelar di tempat ini.

Pondok yang semestinya dipergunakan untuk galeri tempat produksi seni, berubah sebagai tempat kost yang hanya dipergunakan untuk tidur saja," kata satu pemilik galeri lukis di Pasar Seni itu, Eel. Menurut dia, Pasar Seni seharusnya dikelola tepat guna, bukan berubah fungsi menjadi tempat tinggal. Ia juga mengatakan, Dewan Kesenian Lampung (DKL) tidak memberikan solusi sama sekali untuk perbaikan Pasar Seni itu. "Bahkan DKL terkesan kacang lupa kulitnya, event yang seharusnya digelar di tempat ini, justru dialihkan ke tempat lain. Padahal di Pasar Seni ini terdapat on stage yang cukup luas," katanya.

Pasar Seni mempunyai 21 pondok galeri, tetapi hanya sembilan saja yang terisi, seperti sanggar tari,lukisan serta galeri pernak-pernik, sedangkan sisanya digunakan sebagai tempat singgah. Sehubungan itu, ia meminta pemerintah daerah, terutama Dinas Pariwisata, untuk serius mengembangkan Pasar Seni itu. Pengelola sanggar lainnya, Vito, juga meminta pemerintah untuk memberikan pembinaan dan penyaluran produk seni para seniman. "Ini miris, tempatnya berada di jantung kota, tetapi sepi, terkesan tak berpenghuni. Penerangan juga kurang sehingga terkesan angker pada malam hari," katanya. (Ant/OL-06)

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2009/06/04/78121/126/101/Taman-Budaya-Lampung-Semakin-Kumuh
4 Juni 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar